Dewatering Pada Galian Basement

Sudioto Susilo
Direktur Utama PT. TARUMANEGARA Bumiyasa & Staff Pengajar Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Tarumanegara

Ali Iskandar
Engineering Division PT. TARUMANEGARA Bumiyasa

Jefry Rory Paath
Post Graduate Student at Parahyangan University & Engineering Staff PT. TARUMANEGARA Bumiyasa


Kemajuan teknologi, keterbatasan lahan, peningkatan harga tanah dan bertambahnya kebutuhan akan lahan parkir di daerah perkotaan membuat keberadaan basement menjadi kebutuhan utama bagi bangunan tinggi .
Dengan berkembangnya kebutuhan akan basement yang semakin dalam hingga 5-6 basement dengan galian sampai dengan +20 meter, masalah air tanah saat penggalian dan konstruksi basement menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan dengan lebih serius.
Kedalaman air tanah di Jakarta dan sekitarnya umumnya berkisar antara 2 – 7 meter, sehingga untuk pembangunan basement, yang umumnya memiliki kedalaman 1- 6 lapis, atau kurang lebih pada kedalaman 3 – 22 meter dari permukaan tanah setempat, seringkali dibutuhkan pekerjaan dewatering selama penggalian dan konstruksinya.
Pekerjaan dewatering hampir selalu diperlukan pada saat penggalian basement, baik dengan sistem open cut maupun dengan sistem penahan galian yang lain. Pekerjaan dewatering umumnya bersifat temporary dewatering system, dimana pekerjaaan dewatering dilaksanakan selama pekerjaan pembangunan galian basement dan bangunan sampai elevasi bangunan dengan berat bangunan lebih besar daripada gaya uplift akibat galian basement.
Dalam makalah ini dibahas beberapa permasalahan pada pelaksanaan pekerjaan dewatering dan solusinya.

1. PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi, keterbatasan lahan, bertambahnya jumlah mobil, kebutuhan untuk water treatment plant dan peningkatan harga tanah, meningkatnya kebutuhan akan lahan parkir, di daerah perkotaan membuat keberadaan basement menjadi kebutuhan utama bagi bangunan tinggi sebagai pengganti / alternatif membangun gedung khusus untuk sarana parkir yang juga membutuhkan luas tanah yang cukup besar.
Dengan berkembangnya jumlah lantai gedung sampai 50 – 60 lantai, menyebabkan kebutuhan akan basement yang semakin dalam sampai 20 meter, masalah air tanah saat penggalian dan konstruksi basement menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan dengan lebih serius.

Kedalaman air tanah di Jakarta dan sekitarnya umumnya berkisar antara 2 – 7 meter, sehingga untuk pembangunan basement, yang umumnya memiliki kedalaman 1- 6 lapis, atau kurang lebih pada kedalaman  3 – 22 meter dari permukaan tanah setempat,  seringkali dibutuhkan pekerjaan dewatering selama penggalian dan konstruksinya.

Pekerjaan dewatering (pengeringan air tanah dari lokasi penggalian) hampir selalu diperlukan pada saat penggalian basement, baik dengan sistem open cut maupun dengan sistem penahan galian yang lain. Pekerjaan dewatering umumnya bersifat temporary dewatering system, dimana pekerjaaan dewatering dilaksanakan selama pekerjaan pembangunan galian basement dan bangunan sampai elevasi bangunan dengan berat bangunan lebih besar daripada gaya uplift akibat galian basement.

1.    SISTEM DEWATERING

Beberapa pilihan sistem pekerjaan dewatering antara lain :

  1. Sumps and ditches
  2. Well Point Systems
  3. Deepwell System
  4. Vertical Sand Drain
  5. Electro-osmosis
  6. Cut off

2.1.   Sumps and Ditches

Pada sistem galian terbuka untuk galian  basement dapat dibuat saluran air dan bak penampung pada elevasi yang terendah kemudian air dipompa keluar galian dari bak penampung. Biasanya elevasi permukaan air dapat diturunkan hanya beberapa meter. Digunakan untuk mengumpulkan air dalam galian/cofferdam dan membuangnya keluar. Sistem ini biasanya hanya berhasil pada jenis tanah gravel yang stabil atau  jenis tanah well graded sandy gravel, material yang tersementasi sebagian atau batuan porous.

2.2.   Well Point System

Sistem ini menggunakan sumur-sumur untuk menurunkan permukaan air tanah. Well point system dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

a.Conventional well point system

b.Vacuum well point system

c.Jet-eductor well point system

  • Conventional Well Point System

Metode ini umum digunakan dalam pekerjaan dewatering karena dapat diinstal secara cepat. Sistem ini digunakan pada tanah yang dapat mengalirkan air secara gravitasi.  Penurunan muka air tanah setiap tahap sekitar 5-8 meter, tetapi beberapa tahap penurunan dapat digunakan.

  • Vacuum Well Point System

Sistem ini digunakan pada jenis tanah silt dan sandy silt yang mempunyai angka permeability rendah. Akibat pem-vacuum-an dapat meningkatkan hydraulic gradient yang menyebabkan adanya aliran air. Hanya sedikit effect vacuum yang didapat bila digunakan untuk menaikkan air lebih tinggi dari 5 meter.

  • Jet-eductor Well Point System

Sistem ini digunakan untuk mengeringkan tanah pada jenis tanah dengan kondisi aliran gravity flow, biasanya hanya untuk galian yang dalam dengan jumlah aliran air tanah yang sedikit. Dengan sistem ini muka air tanah dapat diturunkan sampai sedalam 30 meter dari sisi atas galian, sehingga cocok untuk galian shafts (saluran yang sempit dan dalam) serta tunnels (terowongan). Dua buah pipa header dan dua buah pipa riser dibutuhkan untuk sistem ini.

2.3.   Deep Well  System

Sistem ini juga digunakan pada tanah yang dapat mengalirkan air secara gravitasi. Biasanya dipakai untuk galian dalam yang membutuhkan penyaluran air tanah dalam jumlah yang besar. Sumur pompa dapat ditempatkan di sekeliling galian di sebelah luar dari lokasi galian. Sistem ini cocok untuk galian shafts dan tunnels.

2.4.   Vertical Sand Drain

Sistem ini biasanya digunakan untuk menyalurkan air dari suatu lapisan di bagian atas ke lapisan lain di bagian bawah yang lebih mudah dialiri air. Sistem ini cocok untuk mengalirkan air pada tanah yang sangat pervious.

2.5.   Electro-osmosis

Sistem  ini digunakan untuk mengeringkan tanah yang tidak dapat dialiri air secara gravitasi, misalnya pada tanah silt, clayey silt, clayey silty sand. Pada sistem ini aliran listrik secara langsung meningkatkan hydraulic gradient yang menyebabkan terjadinya aliran.

2.6.   Cut Off

Metode ini bekerja dengan cara memberhentikan atau meminimalkan jumlah aliran air yang  masuk kedalam galian, karenanya harus dipasang sampai di bawah lapisan yang kedap air.

 

3.    PEMILIHAN SISTEM DEWATERING

Penentuan metode yang paling sesuai untuk dewatering pada suatu pekerjaan galian tergantung dari beberapa hal sebagai berikut :

  • Lokasi galian ditinjau dari segi geologi, kondisi tanah dan kondisi air tanahnya.

Pemboran dan pumping test di lokasi galian diperlukan untuk menentukan besarnya angka permeability, jenis aliran tanah, tebal aquifer, jenis kondisi aliran dari aquifer termasuk gravity flow atau artesian flow, angka Transmissibility (T), angka Storage Coefficient (Cs), Elevasi muka air tanah, formasi tanah dan batuannya serta jarak lokasi rencana galian terhadap sumber air tanah seperti sungai, danau, laut beserta curah hujannya.

  • Jenis dan ukuran galian.

Untuk suatu galian kecil terbuka (open cut)  yang dangkal dapat digunakan Sumps and Ditches System. Bila muka air tanahnya yang akan diturunkan tidak terlalu dalam dapat menggunakan Well Point System. Untuk galian yang membutuhkan sisi tegak dan penurunan muka air tanahnya lebih dari 10 m dapat digunakan kombinasi antara Cut Off System dan Deep Well System.

  • Kemungkinan kegagalan atau kerusakan akibat dewatering.

c.1. Bila jenis, jumlah dan kapasitas pompa serta kedalaman sumur tidak sesuai dengan kondisi lapangan ada kemungkinan debit air yang dipompa kurang besar, sehingga ada kemungkinan lokasi galian masih tergenang oleh air tanah. Sebaliknya bila debit air yang dipompa terlalu besar atau terlalu cepat, dapat berpengaruh pada penurunan tanah (settlement) yang berbahayabagi bangunan di sekitar proyek.

c.2. Bila dijumpai adanya lapisan tanah pasir yang lepas dan adanya hydraulic gradient yang tinggi ada kemungkinan terjadi sand boiling di dasar galian.

c.3. Pada galian tanah soft sampai very soft clay dengan hydraulic gradient yang tinggi dapat terjadi heaving pada dasar galian akibat flow (aliran) dari slope yang ada karena hilangnya existing overburden pressure akibat galian.

c.4. Galian pada tanah clay yang memiliki artesian pressure dan terdapat lapisan pasir di bawahnya  serta adanya hydraulic gradient yang besar kemungkinan dapat terjadi heaving pada lapisan clay di dasar galian.

c.5. Penurunan muka air tanah dapat menyebabkan kenaikan overburden pressure dari tanah yang dapat meningkatkan settlement dari tanah dan bangunan di sekitar lokasi galian. Salah satu cara pencegahannya adalah dengan membangun beberapa buah recharging well (sumur peresapan) yang dilengkapi dengan monitoring wells untuk menaikkan muka air tanah di sekeliling lokasi galian. Untuk pekerjaan tertentu diperlukan pula inclinometer untuk monitoring pergeseran lateral serta settlement probe untuk monitoring pergeseran vertikal.

c.6. Terjadinya pelapukan struktur bangunan yang terbuat dari kayu yang semula terendam air. Struktur bangunan bawah tanah yang terbuat dari bahan kayu yang sebelumnya terendam air menjadi tidak terendam akibat dari dewatering sehingga dapat mengalami pelapukan.

  • Ekologi lingkungan rawa dapat terganggu akibat penurunan muka air tanah, demikian juga pohon dan tumbuh-tumbuhan lain di lingkungan parkir perkotaan dapat terganggu oleh pengaruh dewatering dalam jangka waktu yang lama.

 

  • Biaya

Besarnya biaya dari sistem dewatering yang dipilih tergantung dari beberapa faktor antara lain :

  1. Jenis dan ukuran pompa yang dibutuhkan untuk memenuhi spesifikasi dari proyek.
  2. Jenis dan kemampuan daya listrik
  3. Persyaratan dan kebutuhan akan tenaga kerja
  4. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pemompaan.

4.    PERENCANAAN DEWATERING

Untuk merencanakan suatu sistem dewatering dibutuhkan beberapa data penunjang sebagai berikut :

  • Denah, potongan dan phase pelaksanaan galian.

Denah galian dibutuhkan untuk menentukan luasnya lokasi yang akan digali dan dibutuhkan untuk penempatan jumlah dan lokasi pumping well (sumur pompa). Sebaiknya sumur pompa didistribusikan secara merata di rencana galian dan sebaiknya posisi sumur pemompaan diletakkan di bagian pelat dari lantai dasar dan tidak diletakkan pada posisi sloof dan poer dari pondasi basement.

Potongan dari basement berguna untuk menentukan elevasi dari dasar galian yang berguna untuk  mengetahui berapa besarnya muka air tanah yang direncanakan.

Phase dari pelaksanaan galian serta sistem pelaksanaan pekerjaan basement menentukan sistem, jenis dan cara penyusunnan pompa. Dewatering untuk sistem top down dan dewatering untuk sistem galian open cut serta dewatering untuk sistem cut off / diaphragm wall tentu berbeda pula.

  • Data Hasil Penyelidikan Tanah

Dari soil profile dan bore log dapat ditentukan jenis ground water flow, apakah type gravity flow atau artesian flow dan penentuan jenis penetrasinya partial atau fully penetration, serta dapat diketahui pula elevasi muka air tanah saat penyelidikan tanah dilakukan. Selain itu dapat pula ditentukan tipe sumber  air yang akan masuk ke dalam lokasi galian, apakah berupa line source atau radial source. Dari bore log bisa didapatkan stratigrafi lapisan tanah yang menunjukkan ketebalan aquifer serta jenis-jenis tanahnya sehingga dapat digunakan sebagai input data dalam penentuan parameter tanah. Data pengujian laboratorium khususnya data grain size analysis dan index properties berguna untuk parameter desain dewatering.

  • Data Hasil Test Pemompaan (Pumping Test)

Data hasil test pemompaan pada lokasi yang akan dilakukan penggalian adalah data yang paling mewakili parameter tanah  T (Transmissibility), Cs (Storage Coefficient), Ro (Radius of Influence), k (Permeability), dan Q  (Discharge) digunakan untuk merencanakan sistem dewatering  pada lokasi  penggalian tersebut. Tetapi untuk pekerjaan dewatering dengan skala yang tidak terlalu besar dapat menggunakan nilai parameter tanah secara empiris.

  • Kondisi di sekitar galian

Kondisi alami sekitar galian sebelum dewatering mulai dilaksanakan harus ditinjau secara teliti antara lain, curah hujan, tumbuhan di sekitarnya untuk penentuan aliran permukaan akibat air hujan, sumber air yang dapat berupa danau, sungai, ataupun laut disekitar galian. Selain itu harus diperhitungkan kondisi bangunan dengan fondasi dangkal yang mungkin mengalami penurunan akibat dewatering, data ini untuk mempertimbangkan jumlah dan lokasi recharging well (sumur resapan). Hal lain yang cukup penting diperhatikan adalah pengaruh dewatering terhadap sumur dangkal di pemukiman sekitarnya.

  • Perencanaan / Desain

Untuk menentukan jumlah dan kapasitas pompa yang akan dipergunakan dalam pelaksanaan dewatering dapat digunakan beberapa cara :

  • Perhitungan secara grafis dengan bantuan flownet besarnya debit air per meter panjang dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

  • Perhitungan secara analitis dengan bantuan rumus-rumus Jacob. Formula ini digunakan dengan mengasumsikan formasi sumur yang digunakan membentuk sebuah sumur besar dengan radius ekivalen tertentu:

– Radial flow untuk water table aquifer

– Radial Artesian Flow

Perlu diingat bahwa formula ini hanya diperuntukkan untuk galian terbuka, tanpa menggunakan sistem penahan tanah yang memotong aliran air. Jadi hasil biasanya amat konservatif.

 

  • Perhitungan besarnya debit air permukaan akibat hujan dapat dihitung dengan rumus

Q = C I A

Dimana intensitas hujan didapatkan kurva lengkung IDF intensitas hujan daerah terdekat dengan lokasi dimana pada umumnya diambil untuk hujan dengan perioda ulang 2 tahunan.

Berikut adalah contoh lengkung IDF:

Hasil dari perhitungan ini adalah untuk mendapatkan debit air permukaan, keperluan volume penampungan air (sump pit) dan parit-parit.

  • Program komputer

Akan lebih mudah dan lebih cepat jika menggunakan bantuan   program komputer berdasarkan input data – data di atas. Beberapa program komputer yang dapat digunakan untuk desain dewatering adalah program Dewater, Seeps 2d, Plaxflow, Flownet dll.

  • Salah satu contoh penggunaan program Dewater yang mengikuti manual NAVY NAFVAC P-418 yang dikembangkan oleh VPI-1993.
  • Input program DEWATER  berupa :
  1. Jenis sumber aliran LINE atau CIRCULAR SOURCES
  2. Jenis aquifer Artesian atau Gravity
  3. Length of excavation
  4. Width of excavation
  5. Total hydraulic head losses
  6. Initial Head
  7. Drawdown
  8. Target head di lokasi tertentu.
  9. Jumlah sumur dan kapasitas pompa.

Berdasarkan data-data input untuk program komputer tersebut di atas, berhasil tidaknya desain dewatering dapat diperkirakan dengan melihat besarnya actual head hasil perhitungan di lokasi target. Dewatering dinyatakan berhasil bila actual head di bawah target head atau elevasi yang ditentukan.

5.    Permasalahan dalam Dewatering

Berikut ini akan diuraikan dua buah studi kasus mengenai pelaksanaan dewatering pada dua buah proyek di Jakarta, yaitu:

– Seiring dengan cepatnya pekerjaan galian dari tahap satu ke tahap berikutnya serta adanya pergantian musim dari musim kemarau ke musim hujan, dimana curah hujan bertambah besar, muka air tanah naik dan mengakibatkan jumlah air yang masuk ke lokasi galian lebih besar daripada jumlah air yang dipompa serta ada sebagian lokasi galian terendam. Hal ini tentu saja menghambat pekerjaan galian sehingga  pompa yang diaktifkan diperbanyak  sampai sedemikian rupa sehingga pekerjaan galian dapat dilanjutkan kembali. Untuk informasi muka air tanah sebaiknya menanyakan pada pemilik sumur-sumur disekitar lokasi, karena dari hasil penyelidikan tanah belum tentu didapatkan muka air tanah maksimum.

– Setelah dewatering berlangsung beberapa lama dari data monitoring well terlihat muka air tanah di sekitarnya mulai turun dan hampir mendekati fondasi bangunan sekitar, untuk mengantipasi terjadinya penurunan bangunan sebagai akibat mampatnya tanah maka recharging well diaktifkan dengan cara sistem pembuangan air dimasukkan ke recharging well tersebut. Selang beberapa waktu kemudian Hal ini ternyata mempengaruhi kondisi lokasi galian dan terjadi genangan, karena seolah-olah air dikembalikan lagi ke lokasi tersebut, disamping terendam oleh air hujan, sehingga mengakibatkan pekerjaan galian berhenti.

– Disamping itu sistem pembuangan air yang sudah direncanakan dengan baik kadang terganggu oleh excavator yang dalam melakukan pekerjaan galian menabrak/merusak sistem pembuangan tersebut sehingga sistem pembuangan tersebut bocor di lokasi galian. Untuk mengatasi hal ini sumur-sumur peresapan (recharging wells) tidak diaktifkan lagi dan pengawasan terhadap monitoring wells dan settlement probes ditingkatkan.

– Pada  waktu pekerjaan galian sampai pada lantai basement terakhir, pompa telah diaktifkan semuanya, ternyata kondisi sebagian lokasi galian ada yang masih terendam, hal ini  menunjukkan indikasi bahwa kapasitas pompa masih kurang besar, sehingga kapasitas pompa perlu ditingkatkan. Namun seiring dengan meningkatnya curah hujan kondisi sebagian lokasi galian masih saja terendam, maka akhirnya kapasitas pompa yang terpasang  diperbesar dan ditambah dengan pompa-pompa permukaan (sump pit) dan ditches untuk mangatasi genangan air setempat. Dengan kapasitas  pompa tersebut, kondisi lokasi galian  bisa relatif lebih kering.

– Monitoring permukaan air tanah pada setiap lubang Dewatering well dan monitoring well secara berkala (sehari satu kali menggunakan dip meter), dilakukan secara berkala, hal ini dapat mengindikasikan pengaruh dewatering terhadap lingkungan sekitar dan kesuksesan suatu pekerjaan dewatering. Berikut adalah contoh monitoring permukaan air dan dip meter.

Weekly Cross Section Monitoring MAT
Monitoring Debit Air

yang mana mampu dikeringkan dengan Sump and Ditches. Dengan kapasitas pompa terpasang tersebut di atas muka air tanah di lokasi dalam galian rata-rata relatif stabil di antara kedalaman 20-25 meter sedang di lokasi luar galian diantara 6-15 meter (lampiran 7) dari permukaan tanah sampai pekerjaan struktur basement selesai.

– Pada pelaksanaan pekerjaan basement muka air tanah relatif stabil dan hampir tidak ada hambatan berarti yang mengganggu sistem dewatering. Beberapa gangguan yang ada disebabkan oleh ausnya pompa serta pada sistem pembuangan. Hal ini diantisipasi dengan menyediakan pompa-pompa cadangan.

– Saat pekerjaan dewatering baru mulai pada awal bulan Februari 2003, yang merupakan puncak musim penghujan, penggunaan sebagian pompa submersible tidak mampu untuk memompa air tanah dan air permukaan sehingga perlu ditambah beberapa pompa permukaan untuk menurunkan genangan air permukaan. Saat itu tinggi genangan air permukaan dari lingkungan sekitar proyek mencapai ketinggian sekitar 2.0 meter.  Air permukaan tersebut kemudian ditransfer baik melalui pompa submersible maupun melalui pompa permukaan ke saluran pembuangan.

– Pengamatan muka air tanah di luar lokasi galian selama proyek menunjukkan bahwa pelaksanaan dewatering ini mempengaruhi kondisi air tanah di sekitarnya. Pada awal proyek, sekitar bulan Januari 2003, ketinggian muka air tanah berada pada elevasi – 1,5 meter. Pada awal bulan Nopember 2003 ketinggian ini telah berubah menjadi sekitar –7.0 meter. Dengan demikian pada beberapa lokasi perlu dilakukan pekerjaan pengembalian air tanah melalui pemasangan recharging well.  Pengaruh yang cukup besar ini disebabkan antara lain oleh sistem dinding penahan tanah berupa tiang bor dan tiang pancang yang relatif tidak kedap air.

– Dalam pekerjaan dewatering saluran pembuangan juga menjadi elemen yang perlu diperhatikan. Dalam proyek ini dijumpai beberapa masalah saluran pembuangan karena jadwal pekerjaan dewatering bersamaan dengan pekerjaan penggalian. Beberapa kali saluran pembuangan air terputus karena terlindas excavator.

– Jadwal pekerjaan yang simultan ini juga menimbulkan beberapa masalah, seperti terganggunya fungsi pompa air selama beberapa waktu karena hasil galian yang ditimbun di lokasi sumur pompa sehingga pompa tidak dapat difungsikan  dan harus menunggu timbunan dipindahkan. Selain itu kabel listrik untuk pompa terputus akibat terlindas excavator. Dalam hal ini diperlukan koordinasi yang baik dengan sub kontraktor yang lain.

6.    Kesimpulan

  • Untuk pekerjaan galian basement antara 3 lapis sampai 5 lapis di bawah muka tanah asli dengan kedalaman galian antara 10 meter sampai dengan 17 meter dapat digunakan beberapa sistem penahan tanah antara lain cut off wall dengan sistem secant pile wall, diaphragm wall atau soldier pile dengan tiang pancang atau tiang bor, yang dikombinasikan dengan sistem pekerjaan dewatering jenis deep well sebagai salah satu alternatif penyelesaian masalah penurunan air tanah yang dihadapi selama pekerjaan galian dan konstruksi basemen.
  • Perencanaan sistem dewatering disamping mengikuti tahap pekerjaan galian dan pembangunan basemen sebaiknya juga memperhitungkan kondisi muka air tanah setempat dan iklim saat dewatering akan dilaksanakan.
  • Koordinasi pekerjaan galian dengan pekerjaan dewatering sangat penting dilakukan untuk menghindari terganggunya sistem dewatering maupun pekerjaan galian, mengingat pekerjaan tersebut biasanya dilaksanakan oleh  kontraktor yang berbeda
  • Dalam perencanaan dan pelaksanaan dewatering kadang – kadang tidak sesuai dengan kondisi yang sudah direncanakan. Hal itu dapat disebabkan antara lain pada waktu perencanaan tahap pekerjaan pembangunan basemen belum diketahui. Tahap pekerjaan baru disusun setelah pekerjaan pumping test dilaksanakan, selain itu faktor cuaca juga mempengaruhi parameter hasil pumping test terutama mengenai fluktuasi muka air tanah. Hal tersebut dapat berpengaruh pada sistem dewatering, baik metode instalasi pompa dan jumlahnya ataupun sistem monitoring dan pembuangan airnya. Oleh karena itu pada pelaksanaan dewatering setiap waktu tertentu perlu dilakukan reanalysis berdasarkan hasil monitoring di lapangan untuk menghadapi dan mengantisipasi permasalahan yang  mungkin timbul  di lapangan.
  • Kejadian piping biasanya terjadi pada tanah pasiran dengan beda head dan gradien exit yang tinggi, pada proyek ini tanah dasar galian berupa very stiff to hard clayey silt dan silty clay (MH-CH). Muka air tanah pada galian akan selalu dikontrol untuk berada dibawah galian minimal sedalam 1m menggunakan 4 Deep well. Dimana dimensi sumur yang digunakan adalah berdiameter 10″ dengan PVC AW berdiameter 6″. Pembuatan sumuran ini dilakukan sebelum dimulainya penggalian, hingga kedalaman -32m atau sama dengan ujung dari D-Wall, sela-sela antara PVC dan dinding pemboran diisi dengan menggunakan material berupa gravel pack atau split berukuran 1-2 cm, hal ini dilakukan untuk menghilangkan resiko piping antara material tanah pada dinding pemboran kedalam lubang-lubang PVC. Untuk mengatasi masuknya material filter (gravel pack maupun split) kedalam lubang-lubang pada PVC, maka PVC dilapisi dengan menggunakan kawat nyamuk sampai dengan ujung PVC. Kualitas air yang dikeluarkan harus selalu dimonitor karena dapat memberikan informasi adanya material yang terbawa (piping) masuk kedalam sumur pemompaan, hal ini harus segera diatasi dengan cara menambah Dewatering well atau menutup dan mengganti lubang sumur yang bermasalah. Dengan metoda ini potensi piping menjadi sangat kecil dan selalu terpantau sementara dari analisa untuk blow in/basal heave didapatkan faktor keamanan sebesar 1.7>1.2 jadi kondisi galian relatif cukup aman. (OK)

REFERENSI

Beca Carter Hollings & Fernerl (1995)
Geotechnical Report for World Trade Center II, Jakarta
Bowles JE (1997)
Foundation Analysis and Design – 5 th ed, Singaporre, McGraw-Hill Book Co, 1175 pp
Cedergren, H. R. (1967)
Seepage, drainage,and flownets, New York, JohnWiley and Sons, 489 pp
Department of the Army, The Navy and The Air Force (1983).
Dewatering and Groundwater Control NAVY NAVFAC P-418

  1. Patricks Powers (1992).

Construction Dewatering
Terzaghi K  (1967)
Soil Mechanics in Engineering Practice



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *